Menaikan Kembali Pamor Teh Bandung Raya

Teh sempat menjadi primadona pada masa penjajahan dulu, sampai – sampai pemerintah kolonial menerapkan sistem tanam paksa untuk menghasilakn teh dengan jumlah yang banyak. Hampir semua kebun teh peninggalan masa kolonial masih bisa kita lihat hingga saat ini, terutama perkebunan teh yang berada di kawasan Priangan.

Di kawasan Bandung Raya sendiri terdapat beberapa perkebunan yang saat ini dikuasai oleh PTPN 8 wilayah Jawabarat. Mungkin sebagian besar nama beberapa perkebunan sudah sangat familiar sebut saja perkebunan Malabar, Santosa, Talun, Sukawana atau Rancabolang semua kebun itu masih melakukan produksi hingga saat ini. Selain kebun peninggalan lainya berupa pabrik – pabrik yang memang kebanyakan dibangun pada masa kolonial.

Di perkebunan teh ada seorang yang bertugas sebagai administratur, salah satu tugasnya adalah menjaga hasil produksi dan juga kualitas teh yang dihasilkan. Ini dikarenakan semua teh yang dihasilkan di kebun – kebun Priangan pada waktu itu adalah untuk keperluan impor. Salah satu administratur yang cukup masyur namanya adalah K.A.R Bosscha yang bertugas di perkebunan Malabar.

Pada masa beliau inilah produksi teh di Priangan menjadi nomor satu di dunia. Nama Bosscha sendiri tentu saja bukan nama asing bagi warga Bandung, karena beliau sangat berjasa dalam membantu pembangunan di kota Bandung. Beberapa bangunan – bangunan bersejarah di Bandung saat ini merupakan hasil dari sumbangsih beliau. ITB, Peneropongan Bintang dan SLB Cicendo adalah tempat – tempat yang dibangun atas prakarsa beliau.

Saat ini produksi teh di Jawabarat memang masih menjadi lumbung teh nasional, sekitar 70% kebun – kebun teh berada di Jawabarat dan kebun – kebun di Kabupaten Bandung menjadi salah satu penyuplai teh dengan kualitas cukup baik.

Jika pada masa kolonial dulu kualitas teh sangat diperhatikan dengan hanya memetik ujung daunnya saja atau yang di sebut peko dengan memanfaatkan kejelian para pemetiknya. Saat ini dengan semakin majunya perkembangan zaman banyak para pekerja perkebunan yang menggunakan mesin untuk “memetik” teh, penggunaan mesin inilah yang terkadang menurunkan kualitas teh yang dihasilkan karena bukan hanya peko yang berusia muda yang diambil namun daun – daun tua pun bisa tergerus oleh mesin.

Selain dijadikan teh celup dan tubruk hasil produksi teh saat ini banyak dijadikan untuk perisa minuman kemasan teh, dan para pemetik teh biasanya punya cara tersendiri dalam mengolah teh yang disebut “Teh Gelang”  merujuk kepada cara pembuatannya.

Untuk menaikan kembali pamor teh yang kalah oleh kopi, saat ini beberapa perkebunan serius memproduksi teh kelas premium yang memang tujuannya untuk impor. Salah satu jenis teh dengan kualitas premium adalah jenis teh putih yang harga perkilonya bisa mencapai jutaan rupiah. Dengan harga yang cukup bagus tentu saja bisa menaikan kembali pamor teh yang saat ini sedang turun, namun semua itu tentu saja harus dibarengi dengan pemasaran dan promosi yang gencar sehingga dapat menaikan jumlah permintaan teh.

Perkebunan teh Pasir Malang Pangalengan (foto doc Pribadi )

Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *