Pesona Citarum Purba di Saguling

Selama ini kita mengenal waduk Saguling yang digunakan sebagai pembangkit listrik yang daya produksinya bisa untuk menerangi Pulau Jawa dan Bali. Namun sebenarnya aliran sungai Citarum yang berada di kawasan PLTA Saguling saat ini banyak dimanfaatkan sebagai objek wisata terutama wisata alam.

Saat memasuki PLTA Saguling kita sudah disambut oleh Sanghyang Tikoro.  Sesuai dengan namanya Sanghyang Tikoro ini mirip sekali dengan mulut yang terbuka lebar yang sedang menelan air yang langsung masuk ke tenggorokan ( Tikoro : Tenggorokan, sun ).  Tempat ini juga menjadi rangkaian terakhir alur sungai Citarum di kawasan PLTA Saguling ini. Menurut legenda yang beredar di masyarakat, lobang di Sanghyang Tikoro ini lah yang menyebabkan danau Bandung Purba menjadi kering.

Apabila kita menyusuri jalur sungainya sebelum kita menuju ke Sanghyang Heuleut, kita akan melewati Sanghyang Poek. Sanghyang Poek sendiri berbentuk gua alami yang didalamnya terdapat batuan seperti sisa aliran sungai. Area di sini cukup luas namun para wisatawan harus hati – hati karena bebatuannya cukup tajam dan juga kondisi di dalamnya yang memang gelap gulita sesuai dengan namanya.

Diantara aliran sungai Citarum di Saguling, yang paling terkenal tentu saja sebuah tempat yang bernama Sanghyang Heuleut. Jika di dua tempat sebelumnya para pengunjung susah untuk bermain di air. Di Sanghyang Heuleut ini para pengunjung bisa langsung menikmati aliran sungai Citarum. Jika pada musim kemarau genangan air di Sanghyang Heuleut ini terlihat berwarna hijau namun pada musim hujan air akan nampak keruh.

Karena warnanya terlihat hijau Sanghyang Heuleut ini sering mendapat julukan sebagai Green Canyon dari Bandung Barat. Wisata air yang digabungkan dengan adrenalin tersaji di sini. Para pengunjung yang mempunyai nyali cukup besar bisa mencoba meloncat dari atas batu setinggi kurang lebih 10 meter menuju kubangan air yang ada di Sanghyang Heuleut.

Perlengkapan keselamatan untuk menikmati uji adrenalin itu sudah disediakan oleh para warga dan kita bisa menyewa perlengkapan tersebut. Ada juga warung – warung kecil yang menyediakan makanan dan minuman untuk sekadar mengganjal perut

Sebenarnya untuk yang ingin langsung saja menjajal Sanghyang Heuleut tanpa menyusuri sungai bisa langsung ditanyakan ke warga sekitar untuk tempat parkirnya. Namun perjalanan masih harus diteruskan dengan jalan kaki menyusuri jalan setapak. Kondisi kita juga harus bugar karena apabila akan menuju ke lokasi  kita akan mendapatkan jalan turunan sebaliknya saat kita akan pulang jalur tanjakan akan kita lalui.

Dengan semakin populernya objek wisata di sekitar Citarum purba ini ada baiknya pemerintah setempat bekerja sama dengan PLTA Saguling untuk bisa mengembangkan wisata ini. tentu saja ada beberapa peraturan yang memang harus disepakati oleh kedua belah pihak. Namun apabila menurut PLTA daerah Citarum purba ini tidak bisa dijadikan objek wisata dengan beberapa faktor resikonya ya tentu saja kita juga harus menerima dan mentaati peraturan tersebut.

Wisatawan menikmati Sanghyang Heuleut ( pic : kesiniaja.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *