Cisanti dan kisah Bujangga Manik

Jika di Eropa kita mengenal nama  Marcopolo sebagai seorang penjelajah yang catatannya masih bisa ditemukan, ternyata di tanah Sunda juga memiliki seorang pengembara yang catatannya juga masih ada hingga saat ini. Pengembara itu bernama Bujangga Manik yang merupakan seorang rahib atau resi ( pemuka agama Hindu ). Bujangga Manik sendiri hidup pada zaman kerajaan Pakuan Pajajaran yaitu sekitar abad ke-15.

Bujangga Manik sendiri awal mulanya bukanlah seorang pemuka agama, namun seorang pangeran dan calon raja di kerajaan Pajajaran yang bergelar Pangeran Jaya Pakuan. Perjalanannya sendiri  menyusuri tanah Jawa hingga ke Bali dan terbagi menjadi dua fase. Bujangga Manik mencatat semua hasil perjalanannya di daun lontar yang pada saat itu memang menjadi media untuk menulis.

Wilayah Bandung selatan adalah salah satu tempat yang sempat dikunjungi oleh Bujangga Manik karena beberapa nama tempat disebutkan di dalam catatan perjalanannya. “ Meuntas aing di Cikarencang, meuntas aing di Cisanti, sananjak ka Gunung Wayang, sadiri aing ti inya cunduk ka mandala beutung. “ yang berarti ( Kusebrangi sungai Cikarencang, Kusebrangi situ Cisanti ku mendaki ke Gunung Wayang sepergianku dari sana sampai ke Mandala Beutung “ . Semua catatan ini diterjemahkan oleh J. Noorduyn – A. Teeuw yang menganalisis 3 naskah Sunda Kuna. Naskah Sunda kuna sendiri saat ini berada di perpusatakaan Bodlelan, Oxford University.

Situ Cisanti saat ini berada di desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari. Jika merujuk ke catatan Bujangga Manik berarti danau ini merupakan sebuah danau yang sudah berumur cukup lama. Beberapa tahun kebelakang kondisi di kawasan Cisanti ikut tersorot dengan naiknya berita soal sungai Citarum.

Sungai Citarum sempat menjadi buah bibir yang tidak menyedapkan saat tim eskpedisi Kompas pada tahun 2011 dan National Geographic 2014, menyimpulkan bahwa Citarum adalah salah satu sungai yang tercemar berat. Ada sekitar 14 jenis ikan “penghuni’ Citarum yang hilang dalam kurun waktu 40 tahun. Padahal dulu sungai Citarum ini terkenal akan kejernihan airnya, sehingga sebuah kampung adat di daerah Margaasih mempunyai pantangan membuat sumur dan apabila masyarakatnya memerlukan air tinggal ke Citarum sebagai pusat air.

Selain kotor, sungai Citarum ini juga selalu menjadi penyebab banjir di daerah Dayeuhkolot, Bojongsoang dan Baleendah. Saat ini penataan sungai Citarum dari hulu ke hilir langsung diambil oleh pemerintah pusat dengan membentuk beberapa Satgas yang diberinama “ Citarum harum “.

Kawasan Cisanti termasuk kawasan yang dibenahi, karena banyaknya lahan gundul diseputar Cisanti ini. Lahan  yang tadinya ditanami tumbuhan keras beralih fungsi menjadi lahan  yang ditanami sayuran. Selama enam bulan Cisanti ditutup untuk wisatawan, area situ dibersihkan oleh para anggota TNI dengan dibantu sukarelawan. Hasilnya kini situ Cisanti sudah berubah total, terlihat nampak lebih bersih dan banyak titik yang memang dibikin untuk memanjakan wisatawan yang ingin menikmati Cisanti.

Tugas kita saat ini adalah merawat apa yang telah dikerjakan oleh Satgas Citarum Harum ini, karena semua itu bisa kita ceritakan ke anak cucu kita nantinya sambil menikmati segarnya situ Cisanti.


Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *