Kisah stasiun radio di Malabar

Saat ini industri telekomunikasi sangat pesat sekali perkembangannya, dengan telepon pintar semuanya ada di genggaman kita. Ditambah dengan biaya yang sangat murah apabila kita ingin  berkomunikasi dengan sanak keluarga maupun teman yang berada di luar kota maupun di luar negeri. Hal ini tentu saja menjadikan para penyedia perangkat keras, lunak, maupun yang menyediakan jasa telekomunikasi semakin berlomba untuk menjadikan perusahaannya sebagai perusahaan telekomiunikasi nomor satu.

Namun jika kita menilik kebelakang, pada masa awal-awal ditemukannya sinyal radio, untuk melakukan komunikasi ini sangat mahal sekali biayanya, orang perlu menabung dulu untuk melakukan komunikasi jarak jauh. Namun mari kita tidak menengok soal biaya komunikasi, tapi bagaimana stasiun radio bisa didirikan di kawasan pegunungan Malabar.

Radio Malabar menjadi radio penghubung antara orang Belanda yang tinggal di Hindia dengan yang tinggal di negeri kincir angin itu. Di Belanda stasiun penerimanya bernama Radio Kootwijk. Kisah soal Radio Malabar ini diceritakan dalam lagu yang berjudul “ Hallo Bandung” yang dinyanyikan oleh Willy Derby pada tahun 1929. Lagu tersebut menceritakan soal komunikasi anatar seorang anak yang tinggal di Hindia dengan ibunya yang ada di Belanda.

Radio Malabar berada di Desa Campaka Mulya Kecamatan Cimaung, radio ini dirancang oleh Dr. Ir. Cornelis Johannes de Groot seorang ahli elektro berkebangsaan Jerman. Pada tahun 1916. Jika akan mengaktifkan radio ini dibutuhkan daya listrik yang tidak sedikit. Butuh tiga PLTA untuk mengaliri arus listrik ke radio ini. PLTA Bengkok ( Dago ),  Plengan dan Lamajan menjadi penyuplai listrik untuk stasiun radio ini. Seperti pada umumnya untuk melakukan pembangunan zaman Hindia tenaga lokal selalu menjadi pilihan, pun pada pembangunan stasiun radio ini. Terlihat dari adanya sisa-sisa rerutuhan komplek para pekerja di sekitar kawasan gunung Puntang yang menjadi lokasi stasiun Radio Malabar.

Saat ini Radio Malabar hanya menjadi kenangan, reruntuhannya meskipoun ada namun  sudah tidak dapat dikenali lagi. Bangunan tersebut dihancurkan oleh para pejuang republik dari Bandung Selatan, setelah akan direbut kembali oleh pasukan Belanda yang sebelumnya dikalahkan Jepang. Untuk memperingati peresmian radio itu maka dibangunlah sebuah monumen di kota Bandung di daerah Jl. Citarum sekarang, namun bangunan monumen tersebut juga dihancurkan pada tahun 1950 untuk pembangunan sebuah masjid


Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *