Observatorium Bosscha, Peneropongan Bintang Tertua di Indonesia

Pada kisaran tahun 2000 ada sebuah film yang bercerita tentang penculikan anak yang mengambil lokasi syuting salah satunya di kawasan Observatorium Bosscha di daerah Lembang, Bandung Barat. Film yang berjudul “Petualangan Sherina” itu sempat menggebrak industri film nasional yang sebelumnya sedang mati suri, kalah pamor dengan film-film asing yang beredar di layar bioskop kota – kota besar di Indonesia. Karena film tersebut nama Observatorium Bosscha mulai dikenal khalayak sebagai salah satu pusat peneropongan dan pengamatan bintang di Indonesia.

Observatorium Bosscha mulai dibangun pada tahun 1923, di daerah Lembang 15 kilometer di utara kota Bandung. Penamaan Bosscha pada Observatorium tersebut tak lain karena peran dari Bosscha seorang administratur perkebunan teh di Pangalengan pada masa Hindia Belanda. Karel Albert Rudolf Bosscha adalah nama lengkapnya, beliau menjadi penyumbang terbesar dalam pembangunan peneropongan bintang tersebut, karena itulah namanya diabadikan menjadi nama Observatorium.

Teleskop yang pertama kali datang ke observatorium adalah teleskop buatan Jerman. Dipesanlah teleskop buatan perusahaan optik ternama Jerman, Carl Zeiss Jena. Teleskop ini mempunyai garis tengah 60 cm dan panjang fokusnya 10 meter. Pembelian teleskopnya ini juga mempunyai cerita cukup unik, karena Bosscha memanfaatkan kejatuhan mata uang Mark ( mata uang Jerman ) untuk membeli teleskop ini. Maka teleskop bagus dan murah berhasil didatangkan Bosscha dari Jerman ke Bandung.

Jika pada zaman Hindia Belanda observatorium ini berada di bawah ( NISV – Perkumpulan Astronom Hindia Belanda ), saat ini Observatorium berada dibawah pengawasan Institut Teknologi Bandung dan sejak saat itu observatorium Bosscha difungsikan sebagai lembaga penelitian dan pendidikan formal tentang astronomi di Indonesia. Observatorium ini memiliki beberapa teleskop yang masih berdungsi hingga saat ini, diantaranya: Teleskop Refraktor Ganda Zeiss, Teleskop Bima Sakti, Teleskop refraktor Bamberg, dan empat teleskop lainnya yang masih berada di kawasan Observeatorium ini.

Menjaga observatorium ini tetap menjadi pusat pengamatan astronomi memang cukup sulit, terutama dengan semakin banyaknya permukiman yang berada di kawasan observatorium Bosscha. Pembangunan yang pesat di kawasan Bandung utara sangat berpengaruh sekali terhadap pengamatan astronomi ini, karena semakin banyaknya pembangunan maka semakin tinggi pula polusi cahaya yang sangat mengganggu ketika sedang melakukan pengamatan astronomi. Dengan banyaknya gangguan tersbut maka tim riset astronomi ITB sudah memilih kota Kupang di NTT untuk dijadikan Observatorium baru. Pemilihan kota ini dikarenakan langit di daerah Kupang sudah jauh lebih terang daripada di Lembang. Selain itu tentu saja para periset astronomi ITB ini berharap bisa memajukan lagi ketertarikan terhadap bidang antariksa.


Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *