Kampung Seni Jelekong

Bagi orang Bandung nama Jelekong sangat identik dengan para seniman lukisnya. Kita bisa melihat hasil lukisannya di beberapa ruas jalan di Kota Bandung. Ada pula yang menjajakan lukisan dari Jelekong ini dengan cara berkeliling kota. Tidak hanya di kawasan Bandung penjual lukisan Jelekong ini bisa sampai ke daerah lain di pulau Jawa.

Kampung Jelekong ini terletak di Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung, letaknya bersinggungan dengan kecamatan Ciparay. Kampung lukis, begitu sebutan orang-orang untuk Jelekong. Tidak salah karena di Jelekong hingga saat ini ada sekitar lebih dari 700 pelukis aktif yang tersebar di beberapa sanggar di kawasan Jelekong.

Tidak diketahui secara pasti kapan Jelekong menjadi sebuah kampung lukis, menurut dari cerita yang berkembang secara turun temurun seni lukis di Jelekong sudah mulai menggeliat sejak tahun 1970-an. Tentunya apabila diteliti lebih lanjut kita bisa mengetahui kapan dimulainya aktifitas melukis para warga Jelekong. Beberapa lukisan yang menjadi ciri khas dari jelekong adalah lukisan tema alam dan binatang. Hamparan sawah dan kawasan pegunungan banyak dijadikan objek oleh para seniman. Hal ini karena didukung oleh kondisi alam di sekitar Jelekong yang hingga saat ini hamparan sawahnya masih sangat luas.

Selain soal lukisan, Jelekong ini dikenal juga dengan kampungnya wayang golek. Karena di Jelekong inilah dalang wayang golek yang sangat terkenal yaitu Asep Sunandar Surnarya (alm) bertempat tinggal. Padepokan Giri Harja, begitulah nama kelompok kesenian wayang golek yang berada di Jelekong ini. Giri Harja sendiri dibentuk oleh  orang tua Asep Sunandar yaitu Abeng Sunarya yang lebih dikenal dengan sebutan Abah Sunarya. Karena beberapa anak Abah Sunarya mengikuti jejaknya sebagai dalang, maka untuk membedakan di belakang Giri Harja di beri nomor, contohnya kelompok Asep Sunandar Sunarya ( Giri Harja 3 ) dan Ade Kosasih Sunarya ( Giri Harja 2 ).

Julukan sebagai kampung seni memang cocok disematkan kepada Jelekong, karena siapa saja bisa belajar di sanggar-sanggar yang tersedia di Jelekong. Selain peneliti dalam negeri,  peneliti dari luar negeri pun banyak yang menjadikan Jelekong sebagai tujuan penelitiannya. Terbaru ada seorang peneliti dari Perancis yaitu Sarah Anais Andireu ( 36 ) yang telah menulis buku berjudul Raga Kayu, Jiwa Manusia hasil penelitiannya selama 12 tahun di Jelekong. Jadi apakah anda sudah mulai tertarik untuk berkunjung langsung ke Jelekong?


Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *