inggit ganarsih

Inggit Garnasih “Ibu Negara” dari Banjaran

“Bukankah kita berdiri di muka gerbang , zaman baru setelah menempuh perjalanan panjang yang bukan jalan bertabur bunga?”  Begitulah kata Inggit pada Sukarno,  saat Inggit meminta cerai karena tidak mau dimadu.

Lahir  pada 17 April 1888 di Kamasan, Banjaran, dan menghabiskan masa kecil sampai remaja di tempat yang sama, Inggit Garnasih dikenal sebagai istri kedua dari Presiden Sukarno. Sebelum menikah dengan Sukarno, Inggit sudah pernah dipersunting oleh Nata Atmaja seorang patih di kantor residen Priangan namun berakhir dengan perceraian, setelah itu pernah pula Inggit menikah dengan Haji Sanusi seorang tokoh Sarekat Islam di Bandung, namun saat itu Inggit sering ditinggal karena Haji Sanusi cukup sibuk dengan organisasinya yang memang sedang banyak melakukan pergerakan demi kemerdekaan. Barulah setelah dengan Haji Sanusi Inggit menikah dengan Sukarno yang saat menimba ilmu di Bandung ngekos di rumah Inggit.

Garnasih adalah nama kecil dari Inggit, nama Inggit sendiri merupakan sebutan karena setiap saat di rumahnya banyak uang ringgit yang dilemparkan oleh para lelaki yang ingin melihat Inggit keluar rumah untuk melihat parasnya yang sangat cantik. Ya, Inggit sebelmun pindah ke kota Bandung Inggit sudah terlebih dahulu menjadi kembang desa di Kamasan.

Inggit sangat mencintai Sukarno, hari – hari Inggit diisi dengan menemani Sukarno yang saat itu sangat gigih memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Apabila dalam rapat-rapat PNI ( Partai Nasional Indonesia ), Inggit selalu menjadi penterjemah pidato Sukarno ke bahasa Sunda. Selain di Kota, Sukarno pun melakukan pidato ke beberapa daerah di pinggiran Bandung, di Cimaung salah satunya yang ditandai dengan adanya sebuah tugu peringatan yang masih berdiri hingga saat ini.

Sukarno pernah dipenjara di penjara Banceuy karena aktifitas politiknya dan setelah diadili baru dipindahkan ke penjara Sukamiskin. Saat dipenjara, Inggit seringkali menyeludupkan buku-buku maupun koran ke dalam penjara. Semuanya disembunyikan oleh Inggit di dalam bajunya, itu dikarenakan pihak penjara sangat mengisolasi Sukarno dari aktifitas di luar. Atas jasa Inggit mengantarkan buku – buku itu akhirnya Sukarno bisa menulis pledoinya yang sangat terkenal yaitu “Indonesia Menggugat’

Hari – hari terakhir Inggit menemani Sukarno adalah saat Sukarno meminta ijin untuk menikah lagi, salah satu alasannya adalah karena ingin mempunyai keturunan. Inggit tidak mau dimadu, lebih baik bercerai. Inggit dan Sukarno pun bercerai pada tahun 1942, dua tahun sebelum kemerdekaan Indonesia. Meski sudah bercerai Inggit masih menyimpan perasaan terhadap Sukarno, hal ini dibuktikan pada saat Sukarno meninggal Inggit datang melayat mantan suaminya itu. Begitupula Sukarno yang menulis sebuah surat untuk istri terkasihnya yang berisi “ Aku akan kembali ke Bandung kepada cintaku yang sesungguhnya”


Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *