Oto Iskandar Di Nata, Pahlawan Nasional dari Bojongsoang

Jika mendengar Bojongsoang hal yang diingat oleh kebanyakan  warga Bandung  adalah soal banjir yang datang saat musim penghujan tiba. Tapi apakah para warga Bandung ini tahu bahwa di Bojongsoang pernah lahir seorang pahlawan nasional yang wajahnya ada di setiap lembar uang pecahan Rp. 20.000. Oto Iskandar Di Nata memang lahir di Bojongsoang pada tanggal 31 Maret 1897 dari pasangan R. H. Rachmat Adam dan Siti Hadidjah.

Menginjak usia 10 tahun Oto sudah bersekolah di HIS (Hollandsch Inlandsche School ), sekolah khusus Bumiputra, Karangpawulang di Bandung lalu melanjutkan ke sekolah guru (HIK) pada usia 17 tahun dan mendapatkan gelar diploma pada usia 20 tahun tepatnya pada tanggal 30 Agustus 1917. Setelah beres sekolah di Bandung Oto melanjutkan sekolahnya ke HKS ( sekolah guru atas ) di Purworejo yang kemudian menjadi guru di HIS Banjarnegara pada tahun 1920..

Memang semasa hidupnya, Oto banyak berkecimpung di dunia pendidikan di Bandung Oto sempat mengajar di HIS volksonderwijs ( perguruan Rakyat ) pada tahun 1921 dan pada tahun itu pula tepatnya bulan September Oto diangkat menjadi Budi Utomo cabang Bandung. Oto Sendiri banyak menghabiskan masa mengajarnya di daerah Jawa Tengah. Menikah pada tahun 1923 dengan R.A. Soekirah Martodiwirjo yang merupakan orang Banjarnegara, Oto sendiri adalah seorang Sunda tulen.

Melalui organisasi Budi Utomo inilah perkenalan Oto dengan duni poltik sudah mulai terjadi, apalagi setelah dipindah tugaskan ke HIS Muhamadiyah Batavia pada tahun 1924. Paguyuban Pasundan adalah organisasi yang diikuti oleh Oto selepas dari Budi Utomo. Tercatat pada Agustus 1928 Oto mulai menjadi anggota organisasi tersebut. Kemudian pada tahun yang sama diangkat menjadi sekertaris lalu setahun kemudian diangkat menjadi ketua umum Paguyuban Pasundan. Sejak saat itulah Oto kemudian lebih memilih melanjutkan karir di dunia politik dan berhenti mengajar.

Sempat menjadi anggota Volksraad  medio tahun 1930 – 1942.Jjabatan sebagai ketua umum di Paguyuban Pasundan terus diemban Oto hingga organisasi tersebut dibekukan oleh Jepang. Selain menjadi anggota Volksraad , Oto pernah pula menjadi anggota BPUPKI, anggota PPKI dan menjadi menteri negara dalam kabinet Indonesia Pertama. Bulan Desember 1945 menjadi bulan yang sangat kelam untuk keluarga Oto. Pada tanggal 10 Desember Oto diculik dari rumahnya di Jakarta oleh sekelompok pemuda yang menamakan diri laskar hitam dan pada tanggal 20 Desember 1945 Otro dibunuh di pantai Ketapang, Mauk, Tanggerang. Karena jasadnya tidak pernah ditemukan dibangunlah sebuah monumen di kawasan Lembang untuk mengenang beliau, tempat itu bernama Pasir (bukit) Pahlawan. Sedangkan di Kabupaten Bandung julukannya diabadikan menjadi sebuah nama stadion di daerah Soreang, stadion Si Jalak harupat. Oto sendiri ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tanggal 6 November 1973.

Oto Iskandar di Nata . Foto: Dok. Majalah Pandji Poestaka, 1 April 1932.


Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *